Heaven's Gate

Karma will find their ways, otherwise i will show them their path..

Blog

Catatan Kecil ku..

view:  full / summary

Tips Memilih Keris Bagi Pemula

Posted by Xirio Kay on November 1, 2011 at 8:00 PM Comments comments (0)

Tips Memilih Keris Bagi Pemula

 

Tujuan memiliki keris akan mempengaruhi pertimbangan dalam memilih keris. Tujuan memiliki keris antara lain untuk investasi, koleksi/hobby atau keduanya atau mungkin juga untuk memperoleh tuah dari keris. Untuk tujuan yang terakhir sebaiknya tidak digunakan mengingat tuah tidak dapat dibuktikan (sekedar saran daripada syirik).

Sebenarnya menilai sebuah keris hampir sama dengan jika menilai sebuah lukisan. Pada orang-orang tertentu yang mempunyai citarasa seni tersendiri, kadang menilai tinggi lukisan yang menurut orang kebanyakan biasa-biasa saja. Sedangkan lukisan yang menurut orang secara umum indah, dianggap kurang bagus karena dianggap tidak ada jiwanya. Jadi disini faktor subjektivitas sangat tinggi. Lukisan dari pelukis terkenal selalu dianggap bagus, dan secara umum orang akan mem-beo bahwa lukisan tersebut bagus, apalagi jika dilihat dari latar sejarah, cara mendapatkannya serta nilai pengganti sewaktu memperolehnya. Padahal kadang muncul pola pemasaran yang tidak sehat melalui lelang atau pemborongan lukisan dari pelukis tertentu sehingga menjadi barang langka di pasaran sehingga memunculkan kesan lukisan dari pelukis tersebut bernilai seni tinggi dan nilai pengganti yang mahal untuk mendapatkannya. Intilah kerennya "BOM-BOM-AN"

 

Hal yang sama berlaku juga terhadap keris. Maka disini akan muncul penggemar yang fanatik terhadap keris tangguh tertentu atau buatan mpu tertentu. Disini pola "bom-bom-an" kadang muncul, sehingga timbul image bahwa keris tangguh tertentu atau buatan mpu tertentu adalah yang terbaik, termahal dsb. Jadi bagi pemula agar hati-hati dalam usaha mendapatkan sebuah keris, jangan terpengaruh jualan "kecap".

 

Tulisan ini adalah meninjau keris dari segi eksoteri (fisik keris). Hampir semua literatur selalu menganjurkan memilih keris berdasarkan tangguh, wutuh, sepuh dan ditambahi kriteria lainnya (Ensiklopedi Keris, hal 16). Ada juga yang mengembangkan menjadi Kriteria Lahiriah (TUH-SI-RAP-PUH-MOR-JA-NGUN-NGGUH), Kriteria Emosional (Gebyar, Greget, Guwaya, Wingit, Wibawa), dan Kriteria Spiritual (Angsar, Sejarah, Tayuh). Sekali lagi tulisan ini hanya membahas aspek fisik keris, karena kriterial emosional  sangat subyektif dan spiritual justru tidak dapat dibuktikan.


Pengertian Tangguh

 

Kadang bagi pemula agak membingungkan, terutama bagaimana menentukan tangguh dan sepuh? Kalau wutuh dapat dengan mudah dipahami, yaitu asal tidak cacat, rincikan masih lengkap, bilah dan pesi masih utuh. Yang menjadi pertanyaan mungkin apa bedanya tangguh dengan sepuh, toh tangguh selalu menunjukkan ke-sepuh-an (usia) keris.


Masih terdapat dualisme pengertian tangguh, yang pertama :

Tangguh adalah konsep penarihan waktu pembuatan keris berdasarkan bahan, bentuk dan garapan (Keris Jawa, hal 367). Tangguh adalah prakiraan gaya kedaerahan atau zaman dibuatnya sebilah keris atau tombak, yang dijabarkan dari pasikutannya, pengamatan jenis besinya, pamornya dan bajanya. Dapat disimpulkan bahwa tangguh terkait erat dengan masa pemerintahan kerajaan di Jawa dan/atau tempat dibuatnya sebuah tosan aji. Penentuan tangguh dapat ditempuh melalui pengamatan atas gaya/garap keris (bentuk ganja, bentuk sor-soran, rincikan, luk dll) serta pengamatan atas logam. Berdasar masa pemerintahan, muncul Tangguh  Pajajaran, Jenggala, Kahuripan, Singosari, Majapahit, Demak,  Pajang, Mataram Senopaten, Mataram Sultan Agung, Mataram Amangkuratan, Cirebon, Surakarta dan Jogjakarta. Berdasar lokasi/tempat dibuatnya memunculkan Tangguh Sedayu, Tuban, Madura Tua, (masa Majapahit), Pengging  (masa Demak-Pajang), Madura Muda, Cirebon, Madiun (masa Mataram), Surakarta dan Jogjakarta.


Yang Kedua berkaitan dengan penampilan keris (gaya), seperti yang dikatakan tangguh Pengging adalah yang luk-nya rengkol atau tangguh Segaluh gandiknya agak maju, tangguh Mataram Senopaten bilahnya mengesankan trengginas sedangkan Mataram Amangkuratan bilahnya birawa (besar, panjang dan relatif tebal). Berdasarkan hal ini maka keris yang luk-nya rengkol akan dibilang Tangguh Pengging tanpa mempertimbangkan kapan dibuat dan siapa mpu pembuatnya. Atau jika sirah cecaknya cenderung membulat, biasanya Tangguh Tuban.


Dari dua pengertian di atas, pengertian pertama yang lebih sering digunakan. Dengan demikian jika mengetahui masa pemerintahan, diketahui tangguhnya, maka diketahui pula sepuh-nya.


Bagi penggemar keris pemula, mungkin pada tahap awal akan mengalami kesulitan untuk menentukan tangguh suatu keris. Proses belajar yang paling mudah adalah dengan banyak bergaul dengan keris, dengan pengertian banyak mengamati ciri-ciri fisik keris.

 

Wesi (Logam Besi) dan Baja

 

Setelah menyatu dalam satu keris pengamatan kandungan logam pada keris lebih didasarkan pada bobot/berat keris. Makin banyak kandungan baja, maka cenderung lebih berat. Selanjutnya pengamatan terhadap baik/kurang baiknya logam, secara kasar dapat berpedoman pada berikut :


  • Logam dengan kesan basah > kering
  • Logam dengan kesan rabaan halus > kasar
  • Logam yang berurat > madas
  • Logam dengan kesan padat > berpori



*Berserat, Keras dan  tahan karat


*Halus, Basah, Liat dan tahan karat


*Halus, Basah, Keras dan sangat tahan karat


*Halus, Berpasir, dan kurang tahan karat


*Madas, Kering dan kesan berpori


*Madas, Keras dan kurang tahan karat


Image Campuran dari "DISKUSI SEPUTAR KERIS DAN TOSAN AJI" @KASKUS


















Garap

Pengamatan yang gampang untuk penilaian kualitas garap dapat diketahui dari aspek fisik maupun aspek estetika. Aspek fisik menyangkut, apakah pada bilah, ganja sampai dengan pesi tidak terdapat cacat bawaan sewaktu pembuatan keris. Cacat bawaan ini biasanya berwujud retakan kecil pada bilah, ganja maupun pesi. Jadi seperti jika kita menghaluskan kayu dengan ketam secara manual, kadang ada bagian yang "cowel" dan tidak halus.

Aspek estetika berkaitan dengan :

  • Apakah pakem keris sudah benar, baik menyangkut dhapur (kelengkapan rincikan) maupun pamor
  • Untuk keris luk bagaimana dengan luk-nya, apakah serasi antara panjang, lebar dan jarak antara luk sampai ke ujung keris
  • Pada rincikan biasanya kesempurnaan garap dapat dilihat dari pembuatan kembang kacang, tikel alis, sogokan, sraweyan dan greneng (ron dha). Cacat pada kembang kacang sangat mempengaruhi nilai suatu keris.
  • Ganja dapat dilihat dari posisi bawah dan posisi samping. Perlu diperhatikan penyatuan antara bilah dan ganja, lebar ganja serta keserasian dengan bilah. Dari posisi bawah dapat diperhatikan pembuatan sirah cecak, gulu meled, wetengan sampai buntut urang apakah serasi atau tidak. Sebagai catatan, bahwa sebagian besar ganja pada keris "sepuh" akan lebih panjang dari wadidang. Ini disebabkan wadidang yang lebih tipis dari ganja mengalami ke-aus-an.
  • Pesi yang umum biasanya makin mengecil kearah ujung, tetapi ada juga yang hampir sama. Sebagai catatan, pesi pada keris "sepuh" biasanya pangkal lebih kecil dari pada yang tertanam pada ganja dan semakin ke ujung makin mengecil. Hal ini disebabkan ke-aus-an, karena seringnya dilepas sewaktu diwarangi sehingga sewaktu melepas dan menanam ke dalam dederan/pegangan timbul gesekan yang menyebabkan aus.


 

Pamor

 

Pamor akan dilihat dari bahan pamor, jenis pamor, kesempurnaan garap pamor yang dihubungkan dengan tingkat kesulitan pembuatan. Dari segi bahan, maka pamor meteorit menduduki nilai tertinggi disusul bahan nikel dan Luwu. Jika keris diwarangi, pamor meteorit akan menampilkan warna putih dengan gradasi yang tidak seragam, sedangkan pamor nikel akan menampilkan warna putih terang. Pamor Luwu terkesan suram. Selanjutnya pamor yang terang dengan kesan padat dan menancap kuat pada bilah dianggap lebih bagus daripada pamor "nggajih".

Ditinjau dari jenis pamor, secara umum pamor miring dianggap lebih tinggi nilai penggantinya dibanding pamor mlumah meski tidak selalu demikian. Beberapa pamor mlumah tertentu nilainya juga cukup tinggi seperti udan mas, sekar pala, bonang sarenteng dll. Sebenarnya nilai suatu pamor sangat tergantung dari tingkat kesulitan sewaktu pembuatan. Ini yang menjawab mengapa pamor udan mas, bonang sarenteng cukup tinggi nilainya, yaitu karena tingkat kesulitannya tidak di bawah pamor miring tertentu.

Tingkat kesulitan untuk pamor miring juga berbeda-beda. Pamor miring dengan penutup di sepanjang bilah (wengkon) pasti lebih sulit pembuatannya sehingga nilainya lebih tinggi. Pembuatan beberapa pamor miring yang tingkat kesulitannya sangat tinggi antara lain blarak sineret (wengkon), ron genduru (sungsang dan wengkon) dan eri wader.

Dari keseluruhan nilai keris, pamor ini pengaruhnya sangat besar. Hal ini dapat dimaklumi mengingat bahan pamor yang baik cukup mahal serta tingkat kesulitan pembuatan keris sangat ditentukan dari jenis pamor yang akan dibuat.

 

 


Dhapur

 

Nilai sebuah keris tidak dapat terlepas dari hukum permintaan dan penawaran. Yang dapat diidentifikasi dari hukum permintaan dan penawaran antara lain dhapur keris dan ketersediaan keris. Berdasar pengalaman dhapur keris jenis tertentu dan dhapur keris yang cukup langka permintaannya cukup banyak. Keris luk 13 dhapur Sengkelat meski jumlahnya cukup banyak tetapi peminatnya juga sangat banyak. Keris luk 11, baik dhapur Sabuk Inten maupun Carita Keprabon peminatnya juga cukup banyak. Secara umum keris luk 13, 5 dan 3 lebih banyak peminatnya.

Untuk keris lurus dhapur Karna Tinanding, Pasopati, dan Jalak terutama Jalak Sumelang Gandring peminatnya cukup banyak sementara ketersediaannya (yang baik) terbatas.

Selanjutnya dhapur keris yang menggunakan stilasi hewan atau manusia pada gandiknya, biasanya mempunyai nilai lebih. Dengan garapan, logam, pamor, tangguh serta keutuhan yang hampir seimbang, keris dengan gandik naga atau singa mempunyai nilai yang sangat jauh berbeda. Urut-urutan secara umum, nilai tertinggi ada pada keris dengan gandik nagaraja (naga dengan kuluk/kupluk raja sebagaimana kepala Kresna atau Adipati Karna dalam pewayangan), diikuti Singa (Singabarong), Naga Primitif, dll.


source :

Tips memilih keris bagi pemula

TANGGUH KERIS

Posted by Xirio Kay on October 31, 2011 at 2:45 PM Comments comments (0)

Ilmu tangguh adalah pengetahuan (kawruh) untuk memperkirakan jaman pembuatan keris, dengan cara meneliti ciri khas atau gaya pada rancang bangun keris, jenis besi keris dan pamornya.

Dalam catatan kuno, dituliskan ciri-ciri secara tertulis. Notasi itu meyakini akan adanya sebuah gaya atau langgam dari setiap kerajaan. Artinya pada jaman Majapahit diyakini kerisnya memiliki beberapa ciri gaya atau langgam yang seragam. Begitu pula jaman kerajaan Mataram dan seterusnya jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat diyakini memiliki gayanya masing-masing.

Keyakinan terhadap bahan besi dan pamor juga menjadi panduan dalam ilmu tangguh ini.


Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:

1. Kuno

(Budho) tahun 125 M – 1125 M

meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, Medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Pengging Witaradya, Kahuripan dan Kediri.

2. Madyo Kuno

(Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M.

Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.

3. Sepuh Tengah

(Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.

4. Tengahan

(Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram

5. Nom

(Muda) tahun 1614 M – 1945

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.

6. Kamardikan 1945 hingga seterusnya.

Adalah keris yang diciptakan setelah Indonesia merdeka, 1945.

Pada waktu itu pun raja di Surakarta Hadiningrat ke XII mendapat julukan Sinuhun Hamardika. Keris yang diciptakan pada era ini masuk dalam penggolongan keris kamardikan.


Tangguh merupakan seni yang digandrungi oleh komunitas pecinta keris, karena disini terletak suatu seni dalam nilai kemampuan; semacam uji kemampuan dari sesama penggemar keris. Tangguh juga menjadi sebuah nilai pada harga sebilah keris … sesuai trend yang ada dari masa ke masa.

Tangguh dalam kamus bahasa Jawa (S. Prawiroatmodjo) diartikan sebagai ’boleh dipercaya’, ’tenggang’, ’waktu yang baik’, ’sangka’, ’persangkaan’, ’gaya’, ’lembaga’, ’macam’ (keris).

Namun demikian, tuntutan modernitas dan keinginan yang kritis (sisi ilmiah) masa kini, tangguh dituntut menjadi pasti (exact), artinya ilmu tangguh akan bergeser menyesuaikan jaman untuk dapat melengkapi salah satu kriteria dalam melakukan sertifikasi sebilah keris. Tuntutan ini adalah hal yang realistik karena generasi muda tak lagi menyanjung ’sesepuh’ yang belum tentu memiliki wawasan yang benar. Penyanjungan sesepuh adalah ciri etnografis dari budaya paternalistik dalam sub kultur Jawa (Nusantara). Namun demikian ’ilmu tangguh’ harus tetap dipertahankan keberadaannya, kepercayaan pada sesepuh akan bergeser pada sertifikasi suatu badan bahkan mungkin institusional berskala nasional.

Dalam sisi pandang yang kritikal pada abad modern ini, tangguh menjadi sebuah rangsangan baru untuk meneliti secara lebih pasti, betul dan tepat (exact) menentukan sebilah tangguh keris. Maka tingkat pengetahuan yang tertuang pada masa dulu melalui catatan, buku dan naskah kuno menjadi sebuah catatan yang masih kurang memenuhi hasrat keingin-tahuan perkerisan pada saat sekarang. Catatan atau buku kuno tidak melampirkan contoh sketsa atau foto apa yang dimaksudkan pada uraiannya. Tulisan kuno tentang tangguh juga belum bisa menjamin si penulis adalah orang mengetahui keris, bisa jadi penulis adalah seorang pujangga yang menulis secara puitis, karena waktu itu memang tidak memiliki target bahwa tulisannya akan menjadi sebuah kawruh yang meningkat menjadi ilmu seni menangguh.

Ilmu tangguh sering menjadi sebuah polemik, karena terkendala oleh banyak hal, antara lain; kendala wawasan, kendala tempat (domisili atau keberadaan), kendala oleh narasumber yang sebetulnya berskala lokal, kendala oleh karena minat atau selera pada jenis keris dan banyak sekali hal-hal yang memancing perdebatan.

Salah satu cara untuk membangun sebuah ”ilmu tangguh” yang representatif tentu harus melakukan pendataan dan penelitian ulang, salah satunya adalah dengan meneliti penyesuaian antara keris penemuan (artefak) dengan situsnya (geografis); meneliti dan mengkaji ulang catatan kuno dan memperbandingkannya satu buku dengan buku yang lain. Saat ini pun di perpustakaan keraton masih banyak sumber yang dapat menjadi referensi, baik buku-buku bahkan contoh keris berserta kekancingannya.


Dibawah ini ciri-ciri sebuah keris dan tangguhnya :

Jenggala

Ganja pendek, wadidangnya tegak, ada-ada seperti punggung sapi, besi padat-halus dan hitam pekat, pamor seperti rambut putih dan sogokan tanpa pamor.

Pajajaran

Ganja ambatok mengkurep, berbulu lembut, sirah cecak panjang, besi berserat dan kering, potongan bilah ramping, pamor seperti lemak/gajih, blumbangan atau pejetan lebar, sogokan agak lebar dan pendek.

Majapahit

Potongan bilah agak kecil/ramping, ganja sebit rontal kecil luwes, sirah cecak pendek dan meruncing, odo-odo tajam, besi berat dan hitam. Pamor ngrambut berserat panjang-panjang. Pasikutan keris Wingit.

Tuban

Ganja berbentuk tinggi – berbulu, sirah cecak tumpul, pamor menyebar, potongan bilah cembung dan lebar.

Bali

Ukuran bilah besar dan panjang, lebih besar dari ukuran keris jawa, besi berkilau, pamor besar halus dan berkilau.

Madura Tua

Besi kasar dan berat, sekar kacang tumpul dan pamor besar-besar/agal

Mataram

Bentuk ganja seperti cecak menangkap mangsa, sogokan berpamor penuh, sekar kacang seperti gelung wayang, pamor tampak kokoh, dan atas puyuan timbul/menyembul (ujung sogokan)

Kartosura

Besi agak kasar, bila ditimang agak berat, bilah lebih gemuk, ganja berkepala cicak yang meruncing

Surakarta

Bilah seperti daun singkong, besi halus, pamor menyebar, puyuan meruncing, gulu meled pada ganja pendek, odo-odo dan bagian lainnya tampak manis dan luwes.

Yogyakarta

Ganja menggantung, besi halus dan berat, pamor menyebar penuh keseluruh bagian bilah.

Catatan diatas hanya sebagai contoh penulisan kriteria tangguh, yang tentu seharusnya disertai contoh barangnya berupa foto, sketsa atau blad. Maka hal yang sebenarnya ilmu tangguh memang masih perlu disempurnakan.

(catatan ini diambil dari beberapa notasi diantaranya dari Forum Diskusi Keris Yahoo Grup)


Ada beberapa tangguh keris berdasarkan pakem Jawa diantaranya :

1. Tangguh Segaluh (Abad 12)

2. Tangguh Pajajaran (Abad 12)

3. Tangguh Kahuripan (Abad 12)

4. Tangguh Jenggala (Abad 13)

5. Tangguh Singasari (Abad 13)

6. Tangguh Majapahit (1294-1474)

7. Tangguh Madura (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

8. Tangguh Blambangan (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

9. Tangguh Sedayu (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

10. Tangguh Tuban (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

11. Tangguh Sendang (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

12. Tangguh Pengging (1475-1479)

13. Tangguh Demak (1480-1550)

14. Tangguh Pajang (1551-1582)

15. Tangguh Madiun (Abad 16)

16. Tangguh Koripan (Abad 16)

17. Tangguh Mataram (1582-1749)

a) Panembahan Senapati – Sutawijaya (1582-1601)

b) Panembahan Seda Krapyak – Mas Jolang (1601-1613)

c) Sultan Agung – R.M. Rangsang (1613-1645)

d) Amangkurat I – Seda Tegal Arum (1645-1677)

e) Amangkurat II (1677-1703)

f) Amangkurat III – Sunan Mas (1703-1705)

g) Paku Buwono I – Sunan Puger (1705-1719)

h) Amangkurat IV – Sunan Prabu (1719-1725)

i) Paku Buwono II (1725-1749)

18. Tangguh Cirebon (Abad 16)

19. Tangguh Surakarta (1749-sekarang)

a) Paku Buwono III (1749-1788)

b) Paku Buwono IV (1788-1820)

c) Paku Buwono V (1820-1823)

d) Paku Buwono VI (1823-1830)

e) Paku Buwono VII (1830-1858)

f) Paku Buwono VIII (1858-1861)

g) Paku Buwono IX (1861-1893)

h) Paku Buwono X (1893-1939)

i) Paku Buwono XI (1839-1944)

j) Paku Buwono XII (1944-sekarang)

20. Tangguh Yogyakarta (1755-sekarang)

a) Hamengku Buwono I – P. Mangkubmi (1755-1792)

b) Hamengku Buwono II – Sultan Sepuh (1792-1810)

c) Hamengku Buwono III (1810-1814)

d) Hamengku Buwono IV (1814-1822)

e) Hamengku Buwono V (1822-1855)

f) Hamengku Buwono VI (1855-1877)

g) Hamengku Buwono VII (1877-1921)

h) Hamengku Buwono VIII (1921-1939)

i) Hamengku Buwono IX (1939-1990)

j) Hamengku Buwono X (1990-sekarang)


source:

TANGGUH KERIS

PAMOR

Posted by Xirio Kay on October 31, 2011 at 12:25 AM Comments comments (0)

PAMOR

1. SENI DAMAST

MURBOCH SMITH dalam karangannya PERSIAN ART mengira bahwa seni membuat senjat dari besi dicampur nekel, yang dinamakan seni Damast, berasal dari negara Persia, terutama dari kota-kota Ispahan, Kasveen dan Shiraz. Setelah besi baja dan nekel ditempa menjadi satu, kemudian diproses dengan ZAG, suatu cairan Arsenik-dioksida dan zat asam. Besi dan baja karena proses kimia itu menjadi hitam, sedang nekelnya tetap putih, sehingga nampak sebagai garis putih beraneka bentuk pada mata pedang yang menyebabkan senjata itu nampak estetis lebih menarik dan bernilai.

Senjata Damast yang kebanyakan berupa pedang itu, baru dikenal orang Eropa pada awal abad XVIII ketika barang-barang itu dihadiahkan oleh raja Persia kepada czar Rusia. Seni Damast tadi dari Persia melalui India diimpor ke Indonesia, maka di duga bahwa orang Indonesia bisa membuat keris berpamor, baru sesudah kedatangan orang Hindu.

Akan tetapi ketika orang Hindu pada awal abad 1 mengadakan migrasi besar-besaran ke pulau Jawa, orang pribumi di pulau Jawa ternyata sudah mempunyai peradaban yang cukup tinggi, antara lain mereka sudah bisa membuat senjata dari bahan besi. Kalau dugaan ini betul, maka keris yang tidak berpamor yang dinamakan keris PENGAWAK WAJA itu umurnya lebih tua daripada keris yang berpamor. Juga belum dapat ditentukan bahwa nekel yang dipakai untuk senjat Damast tadi, asalnya dari PAMOR seperti halnya pada keris.


2. PAMOR BAHAN PEMBUATAN KERIS.

Bahan keris yang sangat penting ialah Pamor. Pamor adalah benda yang berasal dari angkasa, yang jatuh di bumi jagad ini. Benda semacam itu ada 3 jenis, yaitu:

a. Meteorit yang mengandung besi dan nekel.

b. Siderit yang mengandung hanya besi saja.

c. Aerolit yang berupa batu, tetapi sangat keras, yang juga disebut Batu Pamor (Watu Pamor).

Ketiga-tiganya bisa digunakan untuk bahan pembuatan keris. Hanya apabila sudah menjadi keris, bisa dibeda-bedakan karena warnanya berbeda-beda. Pamor Meteorit pada bilah keris warnanya putih atau putih keabu-abuan. Pamor siderit pada bilah keris warnanya hitam, dinamakan Pamor Ireng atau Pamor Sanak. Pamor Aerolit pada bilah keris warnanya kuning keabu-abuan dan bercampur menjadi satu dengan besi, sehingga hampir tidak bisa dibeda-bedkan dengan besinya. Pamor ini juga disebut Pamor Jalada. J.E. Jasper & Mas Pringadie dalam buku “De Inlandsche Kunstnijverheid in Ned Indie”, 1930, mengatakan bahwa kebanyakan keris yang terdapat di Indonesia memakai pamor Luwu, yang kadar nekelnya sedikit sekali. Pamor ini asalnya dari Kabupaten Luwu daerah pegunungan Torongku dan Ussu di Sulawesi Utara Pamor ini sejak jaman baheula diperdagangkan oleh nelayan suku Bugis ke Philipina Selatan, Malaka, Sumatera, Kalimantan, jawa, Madura, Bali, Lombok dan seluruh pelosok Nusantara. Maka dari sebab itu pamor tadi juga dinamakan Pamor Bugis.


3. PAMOR PRAMBANAN

Adapun pamor yang kadar nekelnya agak banyak, ialah dinamakan Pamor Prambanan. Meteorit yang beratnya kurang lebih 40.000 kg ini pernah jatuh dari angkasa ke bumi jagad ini ketika tahun 1784 pada jaman Susuhunan Paku Buwana III bertahta di Surakarta, di Daerah Prambanan. Jatuhnya Meteorit yang luar biasa itu menimbulkan suatu kawah yang dalamnya kurang lebih 10 meter dan lebar 15 meter, dan menyebabkan kebakaran dan kerusakan pada desa-desa sekitarnya. Ketika meteorit tersebut diangkut ke Kraton Surakarta, disambut dengan upacara besar-besaran yang dipimpin oleh Adipati Jayaningrat. Apabila Kraton atau para pembesar hendak membuat keris atau tombak, diambilnya pamor itu sedikit. Akan tetapi setiap kali Raja membuat keris, para abdi dalem empu keris “Ngalap Berkah” mohon diberi pamor juga. Pamor tersebut sampai sekarang masih disimpan baik-baik di dalam Kraton Surakarta dan di beri nama Kyai Pamor. Sepotong kecil dari Pamor tersebut pernah dikirim oleh Residen Yogyakarta J.R. Couperus ke Laboratorium di Bogor untuk diselidiki secara ilmiah dan analisanya menunjukkan bahwa Pamor Prambanan itu mengandung 94, 50% besi murni, 5,00% nekel dan 0,50% zat Fosfor. Ketika tanggal 30 Mei 1982 tamu agung dari Negeri Belanda Putri Yuliana dan Pangeran Bernhard berkunjung di Kraton Surakarta, mereka juga meminjam pamor Prambanan tersebut dan diberi penjelasan seperlunya. Pamor Prambanan itu mulai digunakan untuk pembuatan keris dan tombak baru pada jaman Susuhunan Paku Buwana IV. Paku Buwana III belum sempat menggunakan Pamor Prambanan tadi karena pada tahun 1788 sudah tutup usia. Maka keris atau tombak yang bilahnya Paku Buwana IV sampai Paku Buwana X. Sesudah itu tidak dibuat keris lagi. Maka apabila ada orang mengatakan bahwa ada keris Majapahit/Mataram memakai pamor Prambanan pada bilahnya, hal itu kurang betul adanya. Pamor Prambanan pada bilah keris warnanya putih bersih dan terasa kasap bila diraba.


4. UDAWADANA

Yang dinamakan Udawadana ialah keadaan, menetapnya, terbentuknya dan sifatnya pamor pada bilah keris. Pamor keris apabila sudah menetap pada bilah keris, dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu:

a. Pamor Jwalana ialah pamor yang terjadi terbentuk dengan sendirinya karena suhu panas api ketika ditempa. Jadi secara alamiah, seperti antara lain: Pamor Jalada, Pamor Hurab-hurab, Pamor Ngulit Semangka, Pamor Mega Mendhung, dan lain-lain.

b. Pamor Anukarta ialah pamor yang sengaja dibuat, dibentuk dan diatur oleh Sang Empu yang membuat keris, seperti antara lain: Pamor Ron Kendhuru, Pamor Blarak Ngirit, Pamor Sekar Lampes, Pamor Kenanga Ginubah, Pamor Wiji Timun, Pamor Udan Mas, Pamor Beras Wutah, Pamor Untu Walang, dan lain-lain.

Pamor apabila sudah menetap pada bilah keris, bisa mempunyai sifat

netep-nandhes-ngambang-ngawat-ngrambut-mlumah,

-miring-nungkak-mubyar-kelem-keras-sap-sapan.

Pamor titipan ialah pamor yang warnanya sangat putih, bersih seperti perak, lebih putih dan lebih bersih daripada pamor sekitarnya, pamor ini tergolong pamor yang berkualitas tinggi dan langka adanya. Keris yang pda bilahnya terdapat pamor titipan, tergolong keris kualitas tinggi. Pamor titipan ini tidak bisa dibuat oleh sang empu dengan sengaja. Nampaknya Pamor titipan pada bilah keris secara alamiah, secara gaib. Jadi empu keris tidak bisa membuat pamor titipan. Penampilan pamor titipan pada bilah keris bisa menambah sifat keris menjadi wingit, singer, angker, berwibawa dan menambah “guwaya” pada keris. Bilah keris kelihatan lebih bercahaya, lebih berseri-seri dan lebih menarik. Kecuali menambah “guwaya”, pamor titipan pun juga menambah kekuatan gaib (magic power) pada keris. Maka makin banyak pamor titipan pada bilah keris, akan makin baik. Yang dinamakan Pamor titipan Munggul ialah pamor yang bentuknya membisul seperti jerawat sebesar kepala jarum, warnanya putih bersih dan juga sangat langka adanya. Pamor ini juga tergolong pamor yang berkualitas tinggi. Dari jumlah seribu keris, belum tentu terdapat satu keris yang memakai pamor munggul. Menurut kepercayaan orang. Pamor Munggul ini bisa menambah keris lebih ampuh dan berwibawa, maka sangat banyak dicari orang. Pamor Munggul ini juga tidak dibuat degnan sengaja oleh sang empu. Nampaknya pamor munggul pada bilah keris juga secara gaib.Yang dinamakan Pamor Jenar (=kuning), ialah pamor yang warnanya kuning keemas-emasan, juga sangat langka adanya. Pamor ini menetapnya pada bilah keris seperti binti-bintik diujung keris atau di Sor-soran yaitu bagian bilah di bawah Ganja. Pamor Jenar asalnya dari meteorit yang mengandung cupronekel, pamor jenar bukanlah Wesi Kuning seperti orang mengira. Yang dinamakan Wesi Kuning adalah campuran 7 logam, yaitu: besi-emas-perak-tembaga-nekel-perunggu dan timah. Sekarang kiranya sudah tidak ada empu lagi yang bisa membuat Wesi Kuning. Cara dan mantranya untuk membuatnya sudah dibawa masuk ke liang kubur oleh sang empu. Kalau ada keris yang memakai Wesi Kuning, biasanya sebagai tumbal untuk menangkis bahaya. Wesi Kuning pada bilah keris kebanyakan berupa bintik-bintik kecil sebesar kepala jarum atau potongan rambut, diselipkan pada ujung keris atau pada Sor-soran. Pada cerita Damarwulan dituturkan, bahwa Menakjingga, raja Blambangan mempunyai pusaka pedang yang dibuat dari bahan Wesi Kuning. Kiranya tidaklah mungkin bahwa pedang tadi seluruhnya dibuat dari Wesi Kuning, melainkan merupakan pedang biasa dari besi yang diselipkan Wesi Kuning sedikit. Menurut kepercayaan orang, Wesi Kuning mempunyai khasiat bisa menyebabkan kekebalan terhaap segala jenis senjata. Konon seorang Insinyur bangsa Jerman pernah mencoba membuat Wesi Kuning secara ilmiah, akan tetapi tanpa hasil karena ketujuh logam tadi tidak bisa bercampur, dan berkumpul menjadi satu benda. Wesi Kuning yang asli warnanya tidak seperti emas, tidak seperti kuningan dan berbau harum.


5. PAMOR WIRASAT DAN KHASIATNYA

Pamor Wirasat ialah pamor yang mempunyai bentuk dan nama beraneka macam dan juga berkhasiat, seperti antara lain: Pamor Kulbuntet yang berkhasiat apabila tertimpa bahaya yang sekonyong-konyong/mendadak bisa menangkis peluru. Pamor ini biasanya terdapat pada Sor-soran di bawah Ganja. Kebanyakan pamor Kulbuntet ini juga terdapat pada Luwuk, yaitu senjat pedang asal dari Sulawesi. Dikatakan orang bahwa senjat Luwuk itu kecuali bisa emnangkis peluru, juga sangat ampuh. Pamor Batulapak mempunyai khasiat dalam keadaan bahaya si pemakai bisa tidak terlihat oleh orang lain (invisible). Pamor Udan Mas mempunyai khasiat bisa mendatangkan kekayaan, terutama apabila didampingi uang kepingan emas. Pamor Putri Kinurung bertempat di Gandhik. Kalau bolak balik lebih baik. Khasiatnya dalam peperangan si pemakai dapat terhindar dari bahaya. Pamor Ujung Gunung bertempat di Bongkot, di bawah Ganja, kalau bolak-balik juga lebih baik. Khasiatnya bisa mengangkis bahaya. Pamor Tumpuk bertempat di Bongkot. Adapun khasiatnya adalah sangat baik untuk berdagang, bisa mendatangkan untung. Pamor Panguripan berkhasiat untuk berdagang, bisa mendatangkan untung. Pamor Andon Lulut berkhasiat si pemakai kuat dalam bersanggama dan bisa beristeri banyak. Pamor Sang Hyang Lumuriku berkhasiat untuk berdagang, bisa mendatangkan untung. Pamor Wirasat, yagn tercatat jumlahnya semua ada 96 jenis.

Di samping pamor ayng berkhasiat baik, tentu juga ada bentuk pamor yang mempunyai pengaruh tidak baik bahkan bisa berbahaya, seperti antara lain:

Pamor Buntel Mayit berkhasiat (mempunyai watak) selalu hendak membunuh orang.

Pamor Kudhung Mayit berwatak hendak membunuh si pemakai sendiri (senjata makan tuah).

Pamor Pegat Waja mempunyai watak si pemakai selalu dalam kesukaran, selalau cekcok dalam keluarga.

Pamor Nyahak berwatak suka membuat perkara, keadaan rumah tangga selalu heboh, tidak tenteram, tidak rukun dengan tetangga.

Pamor Pedhot mempunyai watak si pemakai selalu gagal dalam cita-citanya.

Adapun pamor yang berwatak buruk itu tidak sengaja dibuat oleh sang empu, melainkan merupakan suatu kegagalan, suatu mis-product, dan sebab sang empu ketika sedang menggarap keris, ia kurang konsentrasi, kurang sawiji. Maklumlah karena empu keris itu juga orang biasa, yang bisa lupa, bisa lengah. Situasi dan kondisi sang empu ketika membuat keris bisa mempunyai pengaruh psikis terhadap keris yang sedang dibuatnya. Maka seorang empu keris yang sedang menggarap pusaka, harus dalam keadaan suka – rena – lega – lila – sabar – sareh. Apabila ia sedang dalam keadaan miring (=marah) atau “sungkawa” (= sedih) sebaiknya jangan menggarap keris harus ditunda dulu. Sebaiknya keris yang memakai pamor buruk itu disimpan di museum atau di “labuh” dibuang ke sungai atau laut, jangan dipakai oleh orang.


6. ESOTERI PAMOR KERIS

Esoteri ialah segi yang rahasia, sedang lawannya adalah Eksoteri yaitu segi yang terang. Maka Esoteri Pamor Keris ialah segi yang rahasia dari pamor keris itu Pamor adalah benda gaib terjatuh dari angkasa ke jagad bumi ini. Dalam perjalanannya dari angkasa ke bumi bergeseran dengan Atsir (aether) yang menambah kuatnya gataran-getaran kosmis tadi. Seorang empu keris yang membuat pusaka, dianggap melaksanakan perkawinan antara Bapa Angkasa dan Ibu Pratala. Pamor yang asalnya dari angasa dicampur, dijadikan satu, dikawinkan dengan besi yang asalnya dari bumi. Maka dari itu, pembuatan keris dianggapnya suatu perbuatan mistik sakral, yang harus dikerjakan dengan segala ketekunan dan pengabdian. Sebelum sang empu mengawali pekerjaannya, ia bersuci lahir bathin terlebih dahulu dengan mandi keramas kemudian menjalankan “mutih”, yaitu selama beberapa hari hanya makan nasi putih tanpa lauk-pauk dan minum air putih atau “ngebleng”, yaitu selama beberapa hari tidak amkan tidak minum tidak tidur dan tidak berbicara dalam kamar tertutup. Selama menjalankan Tapabrata, sang empu tadi bersemadi dan bermeditasi mohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk diberi kekuatan jasmaniah dan rohaniah, diberi petunjuk di dalam memilih besi, baja dan pamor yang baik, serta menentukan hari pasaran dan saat yang cocok dan harmonis. Secara tradisional pembuatan keris juga dilengkapi dengan sesaji bermacam-macam, seperti: Tumpeng Robyong – SEga Wuduk – Sega Punar – Sega Kabuli – Sega Golong – Jenang Abang – Jenang Baro-baro – Jajan Pasar – Gedhang Ayu – Suruh Ayu – Kembang Telon, Gula-klapa dan Menyan. Segala tindakan sang empu diawali dengan mengucap mantra-mantra, dengan maksud mengadakan komunikasi kosmis. Sang Empu yang sendang membuat keris, merasa bahwa ia bukanlah seorang seniman, melainkan hanya suatu alat dari tangan Tuhan Yang Mahakuasa utnuk membuat sesuatu yang bermanfaat. Maka nama si empu tidak pernah dicantumkan pada keris. Yang terpenting ialah hasil karyanya dan supra-natural, adalah berkat Allah SWT. Kebajikan yang Tuhan Mahakuasa limpahkan dan isikan kepada keris, setelah sang empu bersungguh-sungguh bersuci diri dan memohon kemurahan Allah SWT. Maka keris merupakan bersatunya yang gaib dengan yang fisik, manunggalnya yagn fisik dengan yang Meta-Fisik dan mengandung tanda-tanda kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa.


(Dikutip dari “Pamor Keris”., tulisan Mr. B.P.H. Sumodiningrat., Seri Penerbitan Proyek Javanologi No.9/th.ke 1., 1983)

source :

PAMOR KERIS

TOMBAK 2

Posted by Xirio Kay on October 29, 2011 at 9:35 PM Comments comments (0)

DIMAHARKAN TOMBAK


Dari Kiri ke Kanan :

  • Tombak Dhapur Biring Lanang / Jaler peksi pluntir Tangguh Kacurigan Tuban Mojopahit ( Warangan baru )
  • Tombak Dhapur Biring Lanang / Jaler Tangguh Kacurigan Tuban Mojopahit ( Warangan baru )





*

DIMAHARKAN !

UNTUK FOTO KESELURUHAN BISA DILIHAT DI ALBUM :

TOMBAK 2

TOMBAK 1

Posted by Xirio Kay on October 29, 2011 at 6:05 PM Comments comments (0)

DIMAHARKAN TOMBAK




Dari Kiri ke Kanan :

  • Tombak Dhapur Biring Lanang / Jaler Tangguh Kacurigan Mojopahit ( Warangan lama )
  • Tombak Dhapur Thotok Tangguh Tangguh sepuh ( Warangan lama )
  • Tombak Dhapur Kudhup Cempaka Tangguh Kacurigan Pajajaran ~ pesi kotak ( Warangan lama )
  • Tombak Dhapur Biring Lanang / Jaler Tangguh Kacurigan Mataram ( Warangan lama )
  • Tombak Dhapur Biring Lanang / Jaler Tangguh Kacurigan Madura ( Warangan lama )
  • Tombak Dhapur Biring Lanang / Jaler Tangguh Kacurigan Madura ( Warangan lama )





*

DIMAHARKAN !

UNTUK FOTO KESELURUHAN BISA DILIHAT DI ALBUM :

TOMBAK 1

KERIS SENGKELAT MATARAM ( SOLD )

Posted by Xirio Kay on October 27, 2011 at 6:25 PM Comments comments (1)

KERIS SENGKELAT MATARAM

TANGGUH MATARAM SEPUH

PAMOR WOS WUTAH

GANJA MAS KEMAMBANG






DIMAHARKAN !

UNTUK FOTO KESELURUHAN BISA DILIHAT DI ALBUM :

KERIS SENGKELAT MATARAM

KERIS PANDAWA SEPUH ( SOLD )

Posted by Xirio Kay on October 27, 2011 at 5:00 PM Comments comments (0)

KERIS PANDAWA SEPUH

TANGGUH ESTIMASI PAJAJARAN ~ MAJAPAHIT

PAMOR WOS WUTAH

GANJA MAS KEMAMBANG





DIMAHARKAN

UNTUK FOTO KESELURUHAN BISA DILIHAT DI ALBUM :

KERIS PANDAWA SEPUH

SURO PEJETAN SEPUH ( SOLD )

Posted by Xirio Kay on October 27, 2011 at 1:30 PM Comments comments (0)

SURO PEJETAN SEPUH

TANGGUH ESTIMASI PAJAJARAN ~ MAJAPAHIT

PAMOR WOS WUTAH




DIMAHARKAN !

UNTUK FOTO KESELURUHAN BISA DILIHAT DI ALBUM

SURO PEJETAN SEPUH

SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

Posted by Xirio Kay on October 27, 2011 at 12:30 PM Comments comments (0)

SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

Dalam budaya jawa ( kejawen ) , penyebutan ” Kakang Kawah Adi Ari-Ari” keberadaannya masih tersamar. Apalagi di zaman modern sekarang ini. Mitos saudara kembar yang ghaib ini cenderung di abaikan. Ini konsekuensi dari zaman maju. Dunia material cenderung meningkat, sedang kaweruh spiritual orang jawa kian gersang. Kita mencoba untuk memahami kembali Puasa Weton yang bagi orang jawa di percayai dapat memberikan pencerahan spiritual dengan berbagai mitosnya yang penuh dengan kesakralan dan religiusitas.


Hakikat Puasa menurut ” Wulang Reh “.

Sri Pakubuwono IV telah memberikan wewaler, peringatan,pada anak cucunya untuk pengekangan nafsu. Peringatan itu tertuang dalam karyannya Serat Wulang Reh, yang di tulis pada hari ahad kliwon, wunku sungsang, tanggal ke-19, bulan besar, mongso ke-delapan, windu sancaya dan di beri sengkalan : Tata-guna-Swareng-Nata ( 1735 ).Ia bergelar : Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Abdur Rahman Sayyidin Panotogomo IV. Nama kecilnya adalah Bandoro Raden Mas Gusti sumbadyo, Putra Pakubuwono III dengan Kanjeng Ratu Kencana.Dalam pupuh II Tembang Kinanthi ia menulis : “Podho Gulangen Ing Kalbu, Ing Sasamita Amrih Lantip, Ojo pijer mangan nendra, ing kaprawiran den kesthi, Pesunen sariraniro , Sudanen dhahar lan guling. (Wahai, asahlah di dalam hatimu biar tajam menangkap isyarat isyarat ghaib. jangan terlalu banyak makan dan tidur, kurangilah hal tersebut, cita citakan kaprawiran ” keluhuran budi “, agar bisa mengekang diri) “.Inti yang cepat di tangkap dari wejangan ini menyangkut pada pengendalian diri dan cara yang harus di tempuh adalah dengan perpuasa.Hakekat Puasa adalah pengekangan diri, karena alam duniawi banyak memberi godaan. Silau dengan kemewahan, apalagi kalau sedang mendapat suka cita yang berlebihan, ” Maka kaprayitnan batin ( kewaspadaan ) akan terkurangi. Manusia akhirnya akan terbelenggu nafsunya. Nafsu yang bersumber dari dirinya sendiri.Nafsu merupakan sikap angkara yang dalam


Wulang Reh di sebutkan terdiri dari 4 macam , yaitu :

  • 1. Lawwamah, Bertempat di perut, lahirnya dari mulut ibarat hati bersinar hitam. Akibatnya bisa menimbulkan dahaga, kantuk dan lapar.
  • 2. Amarah, artinya garang bisa menimbulkan angkara murka, iri dan emosional. Ia berada di empedu, timbulnya lewat telinga bak hati bercahaya merah.
  • 3. Sufiyah, Nafsu yang menimbulkan birahi, rindu, keinginan dan kesenangan. Sumber dari Limpa timbul lewat mata bak hati bercahaya kuning.
  • 4. Muthmainah, Berarti rasa ketentraman. Punya watak yang senang dengan kebaikan, keutamaan dan keluhuran budi. Nafsu ini timbulnya dari tulang, timbul dari hidung bagai hati bersinar putih.


Lelaku Puasa.

Ritualnya di mulai dengan reresik raga ( membersihkan badan ). Badan harus bersih dari kotoran dunia, caranya dengan siram jamas ( mandi besar ).

Kalau perlu menggunakan kumkuman ( rendaman ) bunga lima warna, Mawar, Melati, Kenanga, Kanthil putih, Kanthil kuning. Waktu mandi membaca doa ” Ingsun Adus Ing Banyu Suci, Kang adus badan sejati, Kakosokan nyowo sejati, Amulyaaken kersane Pangeran ( Aku mandi di air suci, Yang mandi badan sejati, membersihkan nyawa sejati, memuliakan takdir Illahi.


Lelaku, jangka waktu puasa ini sehari semalam yang di mulai pukul 24.00 WIB di akhiri pukul 24 WIB hari berikutnya. lelaku puasa yang lebih bersifat khusus. Jangka waktunya 3 hari. Keistimewaan puasa ini menurut pinisepuh ( para arif ) jawa terletak pada nilai amalannya. Seseorang yang melakukan puasa dina dulur ini, nilai amalannya hampir sama dengan puasa 40 hari. Keistimewaan lain adalah terletak pada mustikanya. Puasa ini di yakini dapat menyelesaikan problematika hidup yang sangat berat dalam waktu yang sangat mendesak.


Tiga weton dan buang sengkala.

Ritual Puasa dina dulur ini selama 3 hari, dan harus tepat pada hari Selasa Kliwon, Rabu Legi dan Kamis Pahing. Tentu saja ini dari hitungan kalender jawa, atau umumnya dalam satu bulan terdapat 3 hari yang berurutan ini. Tinggal kita saja yang menentukan ada kesiapan atau tidaknya niatan yang mantap untuk menjalankan lelaku puasa khusus ini.Jangka waktunya juga sama dengan waktunya puasa puasa kejawen lainnya. Dimulai ( sahur ) pada pukul 24 WIB di akhiri ( Berbuka ) pada pukul 24 WIB hari berikutnya. Demikian juga kesiapan jiwa raga seseorang yang hendak berpuasa. Di pagi harinya, sebelum hari (H) ia wajib melakukan pembersihan diri dengan cara ” siram jamas ” ( mandi besar ) lebih baik kalau menggunakan kumkuman ( rendaman ) bunga setaman yang baru di beli di pasar.

Cara mandi jamas ini tidak boleh sembarangan. Rendaman bunga yang tercecer itu harus di kumpulkan dan di larung ( di buang ) di sungai. Hal ini di dasarkan pada mitos “sengkala” ( nasib buruk/dosa dosa ). Termasuk sifat buruk dan nafsu dalam diri manusia harus harus di buang jauh. Larung di maknakan di buang jauh. Sedangkan sungai ( muaranya menuju lautan bebas ) sebagai simbol dunia luas dan tak terbatas.


Bubur Lima Warna.

Akan lebih sempurna bila dalam ritual larung ini di sertakan sesajen berupa bubur lima warna. Hitam, putih, Merah, Kuning dan merah di beri titik putih. Lima warna ini berarti menghormat pada ” Keblat Papat Limo Pancer ” ( Keblat 4 5 bumi tempat berpijak ). Hitam berada di utara, merah di selatan, kuning bertempat di barat dan putih berada di timur.Khusus Filosofi bubur merah bertitik putih, sebenarnya di artikan penghormatan kepada orang tua. Bisa juga sesepuh ( leluhur kita ) baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Namun dalam khasanah kiblat tadi di maknakan pancer.Tentang bubur lima macam ini bisa kita kaitkan dengan simbolisasi bunga lima warna. Dan semua unsur ini di maksudkan sebagai pelengkap sebelum melakukan puasa dino dulur. tetapi jauh di balik ini semua ada mitos bahwa semua unsur itu sebagai pendukung ( kekuatan batin ) dalam melaksanakan puasa. Sekaligus penguat dan peneguh iman seseorang dalam menjalankan ritual puasanya.


Saudara-Saudara Halus / Sedulur papat kalimo pancer

Orang Jawa tradisional percaya eksistensi dari sedulur papat ( saudara empat ) yang selalu menyertai seseorang dimana saja dan kapan saja, selama orang itu hidup didunia. Mereka memang ditugaskan oleh kekausaan alam untuk selalu dengan setia membantu, mereka tidak tidak punya badan jasmani, tetapi ada baik dan kamu juga harus mempunyai hubungan yang serasi dengan mereka yaitu :

  • Kakang kawah, saudara tua kawah, dia keluar dari gua garba ibu sebelum kamu, tempatnya di timur warnanya putih.
  • Adi ari-ari, adik ari-ari, dia dikeluarkan dari gua garba ibu sesudah kamu, tempatnya di barat warnanya kuning.
  • Getih, darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan, tempatnya di selatan warnanya merah
  • Puser, pusar yang dipotong sesudah kelahiranmu, tempatnya di utara warnanya hitam.

Selain sedulur papat diatas, yang lain adalah Kalima Pancer, pancer kelima itulah badan jasmani kamu. Merekalah yang disebut sedulur papat kalimo pancer, mereka ada karena kamu ada. Sementara orang menyebut mereka keblat papat lima tengah, ( empat jurusan yang kelima ada ditengah ). Mereka berlima itu dilahirkan melalui ibu, mereka itu adalah Mar dan Marti, berbentuk udara. Mar adalah udara, yang dihasilkan karena perjuangan ibu saat melahirkan bayi, sedangkan Marti adalah udara yang merupakan rasa ibu sesudah selamat melahirkan si jabang bayi. Secara mistis Mar dan Marti ini warnanya putih dan kuning, kamu bisa meminta bantuan Mar dan Marti hanya sesudah kamu melaksankan tapa brata ( laku spiritul yang sungguh-sungguh )


mereka itu selalu bersama kamu, menjaga kamu dimanapun kamu berada. Mungkin kamu tidak menyadari bahwa mereka itu menolongmu dalam setiap saat kegiantanmu, mereka akan senang, bila kamu memperhatikan mereka, mengetahui akan keberadaan meraka. Adalah bijaksana untuk meminta mereka supaya berpatisipasi dalam setiap kegiatan yang kamu lakukan, seperti : minum, makan, belajar, bekerja, meyopir, mandi dam lain-lain.


Dalam batin kamu mengundang mereka, misalnya :

1. Semua saudara halusku, saya mau makan, bantulah saya ( ewang-ewangono ) artinya mereka itu akan membantumu, sehingga kamu selamat pada saat makan dam makanan itu juga baiak untukmu.

2. Semua saudara halusku, bantulah saya untuk menyopir mobil dengan selamat sampai kantor. Ini artinya kamu kan menyopir dengan selamat sampai ke kantor, tidak ada kecelakaan yang terjadi pada kamu, pada mobil dan yang lain-lain.

3. Semua saudara halusku, saya akan bekerja, bantulah saya supaya bisa meyelesaikan pekerjaan ini dengan baik dan lain-lain.


Tetapi kamu jangan meminta partisipasi mereka pada waktu kamu mau tidur, untuk hal itu kamu harus berkata : saya mau tidur lindungilah saya ( reksanen ) pada waktu saya tidur, kalau ada yang mengganggu atau membahayakan, bangunkanlah saya, sambil membaringkan badan ditempat tidur sebelum menutup mata, dengan meletakkan tangan kanan didada, menyentuh jantung, katakanlah : “ saya juga hidup “


Dengan mengenali mereka artinya kamu memperhatikan mereka dan sebaliknya mereka pun mengurusi kamu. Kalau kamu tidak memperhatikan mereka, mereka tidak akan berbuat apapun untuk menolongmu, mereka mengharap supaya secepatnya kamu kembali ke asalmu, supaya mereka itu secepatnya terbebas dari kewajibannya untuk mendampingimu. Ketika kamu kembali kealam kelanggengan, mereka juga akan pergi dan berharap diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dilahirkan sebagai manusia dengan jiwa dan raga dalam hidup baru mereka di dunia.


Weton adalah peringatan hari lahir seseorang yang terjadi setiap 35 hari sekali. Untuk orang Jawa tradisional mengetahui wetonnya itu penting dan harus diingat kapan wetonnya itu, dengan mengetahui tanggal, bulan, tahun kelahiran seseorang bisa ditentukan hari wetonnya.


1. Pada saat weton biasanya akan dibuat semacam sesaji sederhana yang berupa secawan bubur merah putih dan satu gelas air hangat. Pemberian ini adalah untuk saudara-saudara halus, dengan mengatakan: ini untuk semua saudara halusku, aku selalu ingat kamu, mengenali kamu, maka itu bantulah dan jagalah aku. Sesaji sederhana ini juga untuk mengingatkan dan bersyukur kepada ibu dan ayah, karena melalui merekalah kamu dilahirkan dan hidup di dunia ini. Selanjutnya untuk mengingat dan menghormati para leluhur dab yang paling penting untuk mengingat dan memuji Sang Pencipta Hidup, Tuhan Yang Maha Kuasa.


Cara yang lengkap untuk meyebut saudara-saudara halus tersebut adalah : Mar marti, kakang kawah, adi ari-ari, getih puser sedulur papat, kalimo pancer .

- Bantulah saya (katakan apa keperluanmu)

- Jagalah saya pada waktu saya tidur

Sebaliknya kamu menyebut nama mereka dengan lengkap sehingga kamu menjadi biasa dengan mereka (jumbuh) misalnya untuk beberapa bulan. Sesudah itu kamu boleh memanggil mereka semua : saudara halusku.


Tetapi pada saat kamu berdoa atau meditasi, kamu menyebut dengan nama lengkap, juga pada saat kamu memberikan sesaji untuk mereka, katakanlah nama mereka satu demi satu. Kamu hendaknya tahu bahwa kakang kawah dan adi ari-ari adalah yang paling banyak membantu kamu. Kakang kawah selalu berusa dengan sebaik-baiknya supaya semua keinginan dan usahamu terealisir sedangkan adi ari-ari selalu berusaha menyenangkan kamu.


Oleh karena itu pada saat kamu akan melakukan hal yang penting atau sebelum berdoa, sesudah menyebutkan nama lengkap mereka satu persatu, ulangi lagi dengan menyebut kakang kawah dan adi ari-ari untuk membantumu.


2. Selain memberikan sesaji kepada saudara-saudara halus kamu bisa menyucikan diri, antara lain dengan cara berpuasa selama 24 jam, hanya makan buah dan sayuran ; makan nasi putih dan minum air putih ; tidur sesudah tengah malam atau tidak tidur sama sekali dan lain-lain.

Ada juga yang melakukan selama tiga hari berturut-turut, yaitu satu hari sebelum weton, pada saat weton dan sehari sesudah weton yang disebut Ngapit.dengan selalu meminta partisipasi dari saudara-saudara halusmu, ini berarti kamu aktif secara lahir maupun batin

Yang melakukan sesuatu itu bukan hanya aku, tetapi Ingsun yaitu aku-lahir, luar (jobo) bersama dengan aku dari batin (jero). Maka itu orang Jawa yang mau melakukan hal penting berkata : Niat Ingsun.

Dengan melakukan laku spiritual seperti tersebur diatas, biasanya orang berharap supaya hidupnya selamat dan sejahtera, atau untuk penghayatan ilmu sejati merasa lebih dekat kepada hidup sejati atau kasunyatan.


SUMBER :

SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

MERAWAT & MENJAMAS PUSAKA

Posted by Xirio Kay on October 26, 2011 at 6:40 PM Comments comments (0)

Menjamas pusaka adalah proses merawat dan menjaga pusaka hingga tetap bebas dari karat hingga terjaga dari kerusakan. Proses merawat pusaka ini mulai dari proses membersihkan dari karat / mutih, mewarangi, hingga meminyaki dan memberi wewangian pada pusaka. Keseluruhan proses ini disebut proses Jamasan Pusaka. Dan yang terpenting dari seluruh proses ini adalah sikap batin kita yang harus “nderek langkung” alias permisi, menghormati dan tidak meremehkan. Hal tersebut merupakan penghormatan kita atas kerja sang empu dan atas berkah Tuhan atas pusaka tersebut.


I. MENCUCI PUSAKA / MUTIH

Syarat mutlak agar bilah keris bisa diwarangi dengan baik, adalah bilah harus diputih dengan baik terlebih dulu, setelah terlebih dulu dibersihkan dari berbagai noda, kotoran atau karatnya – termasuk warangan yang terdahulu / lama / bekas. Cara ini disebut “mutih”.

Salah satu cara tradisional mutih adalah :

Rendam bilah keris dengan air kelapa tua (asam lemah) selama beberapa hari, bergantung kadar kotoran dan karatnya. (air bisa ditaburi dengan bunga setaman)

Gosok bilah dengan jeruk nipis sehingga menjadi putih keperakan

Buah lerak dibuang isinya dan diberi sedikit air dalam mangkok agar berbusa. Dengan sikat halus, gosok keris yang telah dimandikan tadi dengan air lerak. Saat menggosok keris dengan sikat jangan dibolak-balik. Sebaiknya mulai dari pesi sampai ganja terus ke awak-awak hingga pucuk. Lakukan dengan pelan dan mantap hingga benar-benar bersih. Lebih hati-hati lagi jika membersihkan keris kinatah atau keris yang kembang kacangnya sudah sangat tipis.

Lakukan pada bilah keris baliknya.

Setelah benar-benar bersih, keringkan dengan menggunakan kain bersih dengan cara memijit-mijitkan kain ke seluruh bagian.

Keris yang telah kering disiram dengan air bersih dan keringkan kembali – seperti sebelumnya.


Beberapa cara yang lain untuk mutih :

1. Di rendam dalam air jeruk nipis.

Akan lebih baik dai perasan air jeruk nipis yang sebelumnya buah jeruk tersebut dikupas. Kulit jeruk bisa menyebabkan bilah keris menjadi kemerahan. Perlu dilihat waktu perendaman karena air jeruk ini bisa memakan bilah besi jika terlalu lama direndam. Jadi sering-sering di cek. Biasanya membutuhkan waktu sektar 6 jam - 1 hari tergantung kualitas warangan yang lama.

2. Jika ingin tidak terlalu makan besi, bisa menggunakan air kelapa tua.

Ini bisa membutuhkan waktu antara 2-5 hari tergantung warangan yang melekat pada bilah. Jika menggunakan cara ini, maka tiap hari kita perlu membersihkan keris dengan sabun colek. Setelah kering dan sabun bersih, maka dimasukkan lagi ke air kelapa. Tetapi jangan mengganti air kelapa tersebut. Dibiarkan saja menggunakan yang awal. Air kelapa juga bisa mengangkat karat dari bilah keris.

4. Jika ingin instant, bisa menggunakan air campur dengan serbuk sitrun.

Tetapi ini sangat tidak dianjurkan karena bisa membuat bilah keris berpori atau berbintik. Jadi serat besi akan hilang.

5. Cara paling ekstrim dan sangat tidak dianjurkan adalah dengan menggunakan cairan HCL atau Asam Nitrat. Ini sangat merusak keris walau keris bisa putih segera dalam waktu hanya sekitar 5 menitan.

Setelah itu keris dioles dengan jeruk nipis yang sudah di kupas dan dibelah menjadi 2 bagian. Bisa ditambahkan dengan abu gosok, dimana belahan jeruk dimasukkan ke abu gosok dan dioleskan ke keris. Cuci dengan air bersih. Barulah kemudian keris bisa menjadi putih sehingga siap diwarangi. Memutih bilah, bisa dilakukan siapa saja. Tidak perlu ahli. Setelah bilah bebas karat usai direndam air kelapa, dan disikat sabun colek jeruk nipis, ya tinggal disikat terus, pelan-pelan. Sesabar-sabarnya, sabun-jeruk-sabun-jeruk sampai nyaris "putih" kemilau, seperti seolah bilah dicat warna metalik. Jangan memutihkan keris dengan cara di ampelas atau apalagi di kikir.


II. MEWARANGI

Proses "memutih" bilah keris adalah kunci sukses pertama untuk mewarangi. Proses lainnya adalah "setelan" dalam membuat warangan yang pas untuk berbagai jenis bilah dan proses mewarangi itu sendiri.

Membuat Warangan

Bahan utama membuat warangan adalah Batu Warangan (serbuk warangan) dan air jeruk nipis.

a. Batu warangan yang bermutu bagus adalah batu warangan eks cina. Batu warangan sangat mahal (sekitar 2 jt rupiah per ons) dan sulit diperoleh. Hal ini karena memang barang seperti itu tidak banyak, juga karena adanya berbagai larangan di negara-negara tertentu (Singapura, misalnya) untuk pemakaian sembaran warangan, maka kelangkaan bahan warangan pun terjadi. Tak semudah seperti dulu. Apalagi, di Indonesia pun terjadi "praktek penyimpangan arsenik untuk membunuh Aktivis Munir...)

Sebenarnya batu warangan berbeda atau tidak seratus persen sama dengan arsenikum (Ar). Arsenikum yang dijual di apotik atau toko-toko kimia (sulit juga di dapat) biasanya dipakai sebagai campuran "agar warangan lebih galak". Akan tetapi, hati-hati - selain beracun, warangan kimia juga "lebih menggerogot bilah" karena kemurniannya, jika dibanding dengan "warangan alam" eks Cina.

Yang pasti, batu warangan - dan juga arsenik murni yang terkadang dijadikan katalis - sangat tidak mudah didapat di berbagai negara yang "sadar lingkungan". Bagaimana pun, warangan - utamanya arsenikum - adalah bahan yang berbahaya bagi keselamatan manusia. Soalnya, kandungan arsenik yang masuk ke dalam tubuh, biasanya menetap (bersifat akumulatif). Jadi kalau setiap hari tambah arsenik di tubuh kita, ya tentunya tumpukan unsur arsenik di tubuh kita semakin menggunung.

Batu warangan yang eks Cina, memang bukan "murni" arsenik. Di dalamnya terdapat pula kandungan kapur, belerang di samping tentu juga arsenik di dalamnya. Karenanya jika diperhatikan, ada batu warangan yang kekuning-kuningan, ada juga semburat ungu (violet) nya, serta ada juga yang dominan putih, dengan semburat warna jingga, kuning, dan lainnya. Sedangkan arsenikum apotik, tentunya murni hanya unsur arsenik.

b. Jeruk Nipis

Yang dipakai adalah jeruk nipis (Jawa: Jeruk Pecel), bukan jeruk lemon atau jeruk purut. Jeruk nipis dikupas kulitnya dengan pisau kecil, agar cuma tinggal kulit dalamnya. Hal ini karena cairan "sereng" yang keluar dari kulit jeruk tak baik untuk melarutkan warangan. Malah mungkin "memperburuk" mutu warangan.

Cara memeras jeruk ada tekniknya sendiri - baik untuk mutih maupun terutama untuk bahan cairan warangan. Kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya tak demikian.

Ada beberapa cara memeras jeruk. Bisa pakai alat (dibelah dan diputar-putar dalam alat perasan jeruk yang biasa untuk minuman perasan jeruk), atau "fully manual" alias dengan tangan hampa saja. Jeruk dibelah membujur - sesuai dengan serat pada belahan jeruk. Malah lebih mudah dan enteng lagi, jika diprapat, atau malah diperdelapan.Hilangkan bijinya, lalu peras di atas rantang atau waskom yang sudah lebih dulu ditutupi saringan teh-kopi. Peras, dan sekaligus pelan-pelan disaring. Karena perasan jeruk biasanya katut (terikut) ampasnya, maka memerasnya pun harus cukup sabar. Ampas perasan jeruk pun masih bisa diperas lagi pakai kain kaos, lalu dipencet di atas saringan teh. Setelah rantang cairan hasil perasan jeruk terisi, maka tuang cairan ke dalam botol dengan "corong" yang juga - sekali lagi - diberi saringan, berupa kain kaos yang tak terlalu rapat lubang-lubangnya.

Jadilah sudah, "air jeruk" murni yang bening. Tinggal diletakkan beberapa hari -- bisa juga beberapa bulan di botol, maka larutan jeruk akan mengendap sendiri dan menghasilkan larutan jeruk yang sangat bening... Untuk membuat warangan dibutuhkan sekitar 15 kg jeruk nipis sehingga menjadi sekitar 1,5 liter air jeruk

c. Meramu Warangan

Soal "meramu larutan warangan". Ini juga penting, lantaran apabila kita belajar mewarangi, tentu tak lepas pula dari membuat warangan. Larutan yang kalau dimasukkan dalam botol, warnanya mirip Coca Cola yang lebih pekat ini, adalah "harta karun" bagi mereka yang hobi atau ahli mewarangi.

Biasanya, jika kita ingin membuat larutan warangan baru, dibutuhkan juga "bibit warangan yang sudah jadi dan berkualitas bagus”. Bibit yang dibutuhkan tidak perlu banyak, cukup secangkir saja untuk seliter larutan warangan baru. Kegunaan “bibit” ini adalah sebagai katalisator, agar warangan baru bisa bereaksi. Jadi atau tidak jadi warangannya, bisa dilihat dengan memasukkan paku yang diikat dengan benang ke dalam botol larutan. Warangan yang jadi, akan segera "menghitamkan paku" yang digantung benang seharian.

Cara membuat larutan baru:

Pertama-tama mengendapkan dulu hasil perasan air jeruk. Botol berisi air jeruk, kita biarkan berhari-hari di tempat yang tenang. Anda akan melihat, cairan jeruk terpisah dua warna - bening di bagian atas, dan keruh atau pekat-endapan di bagian bawah. Ambil botol kaca yang kosong, lalu tuang yang bening (bagian atas) ke botol baru. Endapan jeruk nipis jangan dibuang, akan tetapi sendirikan dalam botol lain. Endapan ini bisa digunakan untuk bahan "memutih bilah". (Jika diendapkan terus, sebotol endapan ini juga akan menghasilkan jeruk bening bagian atasnya, yang tentu saja bisa kita pindahkan ke botol jeruk bening yang pertama).

Dalam waktu lebih dari tiga bulan atau berbulan-bulan, jeruk bening di dalam botol akan berubah warna. Dari semula kuning agak gading, menjadi "kuning semu oranye", agak tua. Jeruk inilah yang akan dipakai untuk bikin larutan warangan baru. (Ada juga yang tak perlu melalui proses "pembeningan" jeruk, tetapi langsung saja perasan jeruk nipis dicampur dengan bubuk batu warangan baru. Risikonya, di masa datang warangannya ada endapan jeruknya).

Selanjutnya adalah melarutkan warangan. Caranya sederhana saja. Tumbuk (lumatkan) dulu batu warangan, biasa dengan "deplokan" (mangkuk pelumat) yang biasa dipakai untuk mendeplok obat di apotik-apotik. Biasanya, mangkuk-pendeplok ini dari bahan porselen tebal, lengkap dengan alu-pendeploknya yang juga dari porselen. Banyak dijual di kios-kios obat di Pasar Rawabening, Jatinegara Jakarta. Atau, toko-toko obat.

Berikutnya adalah melakukan pencampuran antara perasan air jeruk dengan bubuk warangan tadi. Komposisinya adalah sangat etrgantung pada hasil yang diharapkan karena pada setiap jenis besi terkadang harus dilakukan “adjustment” dengan cara menambahkan air jeruknya.

Untuk memancing agar warangan baru bisa cepat "jadi", selain di-katalisasi dengan secangkir warangan yang sudah joss, juga botol berisi warangan itu "dijemur di terik matahari. Ada juga cara lain dengan "nasi basi", atau nasi yang sudah lembek, kecut.

Bisa dibilang tidak ada warangan manapun yang langsung jadi. Harus distel dulu. Umumnya jadi tiga jenis warangan, yakni warangan "galak", setengah "galak", dan warangan "nom" atau lambat-reaksi untuk bilah-bilah dengan jenis pamor yang sanak.

Warangan lebih dulu “diadjust” dengan cara coba-coba celup bilah percobaan yang sudah diputih. Jika dirasa "kurang galak", maka bisa ditambahkan perasan jeruk nipis aga lebih “galak”. Hal ini butuh "feeling" dan pengalaman tersendiri. Bilah "majapahitan" biasanya "langsung nyamber", gampang diwarangi. Tetapi bilah-bilah tua lainnya dengan pamor sanak akan sulit diwarangi. Butuh “adjustment” warangan tersendiri.

Seorang ahli warangan yang baik, akan memiliki beberapa jenis larutan warangan yang akan dipakai untuk jenis logam/besi yang berbeda-beda pula. Bahkan tak jarang mereka punya larutan warangan untuk beberapa jenis tangguh, jika tangguh dianggap mewakili jenis-jenis logam yang berbeda. Dia juga akan melihat 'hari baik' untuk mulai proses mewarangi, biasanya saat cuaca terang dan matahari bersinar dengan cerah (sebagai katalis).


Beberapa Metode Pewarangan

Hasil proses mewarangi dipengaruhi setidaknya tiga variable yaitu: jenis logamnya, kualitas ramuan warangan (bubuk warangan, air jeruk, dan katalisnya juga proses adjustment-nya), serta cara melakukan pewarangan. Untuk hasil optimal, ketiga variable tadi harus dalam kondisi yang 'saling mendukung'.

Ada juga sebelum diwarangi,wilah yang sudah diputih dijemur dulu biar cukup panas sebelum dicelup dalam larutan warangan. Ada juga yang pakai metode 'staging' yaitu mewarangi dengan beberapa tahap, dimulai dari tahapan 'warangan enom/muda' setelah itu meningkat ke 'warangan tua' sehingga bilah semakin menghitam. Dalam hal ini terdapat istilah kalau bilah terlalu hitam setelah diwarangi disebut 'warangane ketuan / warangannya terlalu tua'.


Secara garis besar, ada dua metode mewarangi :

a. Cara Di-koloh

- Siapkan warangan yang telah dicampur air jeruk

- Rendam pusaka dalam cairan warangan itu – beberapa kali sekitar setiap sepuluh menit diangkat dan diangin-anginkan sambil dibantu dengan pijitan tangan hingga meresap.

Mencelup / merendam bilah dalam warangan pun, tidak sembarangan. Disini diperlukan pengalaman empirik, yang sulit dituturkan dalam tulisan. Yang pasti, setiap upaya mewarangi, pasti sering terbentur kegagalan. Jika gagal? Ya "kembali ke laptop", diputih lagi. Begitu seterusnya

b. Cara Di-nyek

- Pusaka dijemur hingga panas lalu dilumuri warangan secara langsung dengan cara dipijit-pijit (di-nyek) hingga kering

- Setelah kering dijemur lagi dan kemudian kembali dilumuri warangan dan dipijit-pijit. Begitu seterusnya hingga tiga kali.

- Siapkan air jeruk dicampur dengan air buah klerek/air sabun lalu pusaka dikeplok dengan kedua genggaman tangan dibersihkan dengan air bersih lalu dijemur lagi

- Setelah itu kembali ke proses awal … hingga beberapa kali sambil diamati bagian per bagian. Semakin lama maka warna pusaka semakin kereng (gelap), hingga guwaya pusaka menjadi bagus. Biasanya pengulangan hingga sembilan kali. Setelah yang terakhir, dibilas hingga bersih dari bercak merah warangan yang tidak menempel.

Menjamas dengan cara di-nyek memang sangat membutuhkan banyak warangan. Keunggulan cara ini adalah membuat pamor tidak mubyar melainkan kelem dan angker, serat atau lapisan yang sering disebut pamor sanak pada besi keleng dapat tenggelam dalam nuansa wingit. Namun hasil metode ini kadang dirasa kurang kontras, jika dibandingkan dengan yang "koloh".


III. MEMBERI WEWANGIAN DAN MEMINYAKI PUSAKA

Berbeda dengan tahap sebelumnya, tahap ini merupakan tahap yang kerap diulang-ulang hingga sebulan sekali, terutama bagian meminyaki keris. Tahap ini disebut pula tahap pemeliharaan yang menjaga agar keris tidak berkarat.

1. Memberi Wewangian

Setelah keris diberi warangan, ada baiknya jika keris diberikan wewangian dupa terlebih dahulu. Caranya :

- Pertama-tama olesi keris dengan minyak pusaka tipis saja. Ambil campuran bubuk gaharu, ratus dan ramasala – taburkan pada bilah keris hingga lengket – biarkan beberapa menit.

- Setelah itu nyalakan lilin – taruhlah di atas lilin dengan jarak lima jari – gerakkan ke kiri ke kanan. Biarkan hingga beberapa saat (tidak perlu sampai terbakar!)

- Bersihkan dengan sikat halus.

- Gosok lagi dengan minyak pusaka tipis saja seperti di atas.

- Taburi dengan bubuk kayu cendana dan taruh di atas lilin seperti tadi.

- Setelah itu bersihkan lagi dengan sikat halus – diamkan beberapa saat.

Olesi dengan minyak pusaka. Angin-anginkan dan jangan tergesa dimasukkan dalam warangka. Jangan menimpan keris di tempat yang tertutup rapat tanpa sirkulasi udara.

2. Membuat Minyak Pusaka

Cara membuat minyak pusaka adalah :

- Minyak paraffin 60 cc

- Bibit cendana (sandalwood) 25 cc

- Bibit Melati Keraton 5 cc

- Bibit Kenanga 10 cc

Bisa juga ditambah atau diganti dengan bibit minyak lainnya (gaharu, dsb) sesuai selera karena bersifat sangat subjektif dan terkadang aroma / bau keris juga menunjukkan identitas pemiliknya. Sangat dilarang mencampurkan bahan parfum atau jenis yang beralkohol – pasti keris menjadi merah berkarat.


Rss_feed

Share on Facebook

Share on Facebook

Facebook Like Button

Recent Blog Entries

by Xirio Kay | 0 comments
by Xirio Kay | 0 comments
by Xirio Kay | 0 comments